BUNG

HATTA

Galeri

LATAR BELAKANG

 

Fungsi Pemerintah Sebagai Pelayan Masyarakat

Secara teoritis sedikitnya ada tiga fungsi utama yang harus dijalankan oleh pemerintah tanpa memandang tingkatannya, yaitu fungsi pelayan masyarakat (public service function), fungsi pembangunan (development function) dan fungsi perlindungan (protection function). Hal yang terpenting dari ketiga fungsi tersebut adalah pemerintah dapat mengelola fungsinya agar dapat menghasilkan barang dan jasa (pelayanan) yang ekonomis, efektif, efisien dan akuntabel kepada seluruh masyarakat yang membutuhkannya.Selain itu, pemerintah dituntut untuk menerapkan prinsip equity dalam menjalankan fungsi-fungsi tadi.Artinya pelayanan pemerintah tidak boleh diberikan secara diskriminatif.pelayanan diberikan tanpa memandang status, pangkat, golongan dari masyarakat. Semua warga masyarakat mempunyai hak yang sama atas pelayanan-pelayanan tersebut sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pemberian pelayanan publik oleh aparatur pemerintah kepada masyarakat sebenarnya merupakan implikasi dari fungsi aparat negara sebagai pelayan masyarakat.karena itu, kedudukan aparatur pemerintah dalam pelayanan umum (public services) sangat strategis karena akan sangat menentukan sejauhmana pemerintah mampu memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi masyarakat, yang dengan demikian akan menentukan sejauhmana negara telah menjalankan perannya dengan baik.

Dalam konteks pelayanan publik, dikemukakan bahwa pelayanan umum adalah mendahulukan kepentingan umum, mempermudah urusan publik, mempersingkat waktu pelaksanaan urusan publik dan memberikan kepuasan kepada publik (publik=umum). senada dengan itu, dikemukakan juga bahwa pelayanan publik adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya. Memang yang menjadi tujuan pelayanan publik pada umumnya adalah bagaimana mempersiapkan pelayanan publik tersebut yang dikehendaki atau dibutuhkan oleh publik, dan bagaimana menyatakan dengan tepat kepada publik mengenai pilihannya dan cara mengaksesnya yang direncanakan dan disediakan oleh pemerintah. Tiga diantara tujuan pelayanan publik adahah memperlakukan pengguna pelayanan, sebagai customers, berusaha memuaskan pengguna pelayanan, sesuai dengan yang diinginkan merekasertamencari cara penyampaian pelayanan yang paling baik dan berkualitas. Salahsatu ketentuan pokok dalam melihat tinggi rendahnya suatu kualitas pelayanan publik, yang perlu diperhatikan adalah adanya keseimbangan antara profesionalitas dan teknik yang dipergunakan(professional and technical component).

Konsep Pelayanan Publik

 

Pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan. pada hakekatnya adalah pelayanan kepada masyarakat tidaklah diadakan untuk melayani dirinya sendiri, tetapi untuk melayani masyarakat serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyaraakat mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya demi mencapai tujuan bersama (rasyid, 1998). karenanya birokrasi publik berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan layanan dengan baik dan profesional.

Saat ini birokrasi publik harus dapat memberikan layanan publik yang lebih profesional, efektif, sederhana, transparan, terbuka, tepat waktu, responsif dan adaptif serta sekaligus dapat membangun kualitas manusia dalam arti meningkatkan kapasitas individu dan masyarakat untuk secara aktif menentukan masa depannya sendiri.

Pelayanan publik yang profesional, artinya pelayanan publik yang dicirikan oleh adanya akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan (aparatur pemerintah).dengan ciri sebagai berikut :​

Fasilitas TIK Sebagai Sarana Publikasi Informasi​

Salahsatu komintmen pemerintah untuk mendukung keterbukaan informasi publik(Open Government Partnership)adalah meningkatkan sarana dan prasarana akses informasi itu sendiri.Keterbukaan informasi ini, memberikan kesempatan pada masyarakat luas untuk mengetahui informasi-informasi yang dibutuhkannyauntuk tujuan ilmu pengetahuan yang ahirnya akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan.Keterbukaan Informasi publik, merupakan suatu situasi dimana seluruh informasi yang berada di badan publik dapat diakses oleh masyarakat, selain yang dikecualikan.Sebelum Undang-Undang No.14 Tahun 2008 diterbitkan, informasi sangat tertutup. Hanya sedikit celah untuk informasi publik yang dapat diakses oleh masyarakat luas

Fasilitas-fasilitas yang dapat dijadikan sarana untuk menfasilitasi keterbukaan akses informasi publik dan juga sebagai sarana publikasi serta promosi informasi adlah media cetak dan media elektronik.Sarana internet dengan membuat situs website, akan menjadi sarana pelayanan dan publikasi yang baik.Sumber media elektronik yang familier bagi pengguna umum antara lain adalah rekaman video, rekaman audio, presentasi multimedia, dan konten daring/luring (online/offline).Media elektronik dapat berbentuk analog maupun digital, walaupun media baru pada umumnya berbentuk digital.Dalam pembahasan ini lebih di tujukan pada pelayanan informasi bahan pustaka, khususnya tentang profil tokoh Mohammad Hatta.Informasi dibuat dengan pendekatan edutainment.

 

Edutainment

Perlu diketahui bahwa kata edutainment itu sendiri berasal dari gabungan kata education dan entertainment.Education itu sendiri memiliki arti pendidikan, sedangkan entertainment memiliki arti hiburan. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa edutainment merupakan sebuah metode atau model pembelajaran yang digunakan dalam dunia pendidikan yang dipadukan dengan hiburan sehinggapemustaka tidak merasa jenuh maupun bosan dalam mempelajari/menelusurapa yang dia inginkan. Jadiapa itu edutainment bisa diartikan sebagai proses pembelajaran yang didesain dengan memadukan antar muatan pendidikan dan hiburan secara harmonis, sehingga aktifitas pembelajaran berlangsung menyenangkan.Salahsatu dari konsep edutainment dapat diterapkan dengan penggunaan sarana multimedia.

  1. Efektif, lebih mengutamakan pada pencapaian apa yang menjadi tujuan dansasaran.

  2. Sederhana, mengandung arti prosedur/tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah, cepat, tepat, tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta pelayanan.

  1. Kejelasan dan kepastian (transparan), mengandung akan arti adanya kejelasan dan kepastian mengenai : prosedur/tata cara pelayanan, persyaratan pelayanan, baik persyaratan teknis maupun persyaratan administratif, unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan, rincian biaya/tarif pelayanan dan tata cara pembayarannya, jadwal waktu penyelesaian pelayanan.

  2. Keterbukaan, mengandung arti prosedur/tata cara persyaratan, satuan kerja/pejabat penanggungjawab pemberi pelayanan, waktu penyelesaian, rincian waktu/tarif serta hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak diminta.

  3. Efisiensi, mengandung arti : (a)persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan yang berkaitan; (b) dicegah adanya pengulangan pemenuhan persyaratan, dalam hal proses pelayanan masyarakat yang bersangkutan mempersyaratkan adanya kelengkapan persyaratan dari satuan kerja/instansi pemerintah lain yang terkait.Ketepatan waktu, kriteria ini mengandung arti pelaksanaan pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

  4. Responsif, lebih mengarah pada daya tanggap dan cepat menanggapi apa yang menjadi masalah, kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang dilayani.

  5. Adaptif, cepat menyesuaikan terhadap apa yang menjadi tuntutan, keinginan dan aspirasi masyarakat yang dilayani yang senantiasa mengalami tumbuh kembang.

 

Birokrasi publik juga dituntut harus dapat mengubah posisi dan peran (revitalisasi) dalam memberikan pelayanan publik menuju ke arah yang fleksibel kolaboratis dan dialogis dan dari cara-cara yang sloganis menuju cara-cara kerja yang realistik pragmatis. Diharapkan dengan revitalisasi ini, pelayanan publik yang lebih baik     

dan profesional dalam menjalankan apa yang menjadi tugas dan kewenagan yang diberikan kepadanya dapat terwujud.

          

"Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani maupun rohani." 

 

(Mohammad Hatta)

TUJUAN

Kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan, menggali, mengangkat, dan mempertimbangkan persoalan-persoalan yang terkait dengan pembentukan identitas dan jatidiri bangsa yang termaktub dalam berbagai tulisan dan ungkapan Bung Hatta.

 

Secara khusus, GALERI BUNG HATTA bertujuan untuk memberi sumbangan pada masyarakat Indonesia dengan menggali, mengkaji, dan mempublikasikan kembali pengetahuan-pengetahuan terkait kearifan pemikiran dan karakter Bung Hatta yang sngt/masih relevan untuk pengembangan jati diri kita sebagai bangsa yng berdaulat dan bermartabat.

 

Upaya ini juga dilaksanakan dalam rangka aplikasi dari kerja sama kemitraan Perpusnas, sebagai wakil Pemerintah, dengan lembaga/institusi/komunitas/dll, sebagai wakil masyarakat, dalam bidang pelestarian, pengkajian, publikasi dan pemanfaatan hsil pemikiran Bung Hatta. 

Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar,kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman.

Namun tidak jujur sulit diperbaiki.

POTENSI DAN PELUANG

UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta yang menyimpan 

Koleksi Khusus Proklamator Bung Hatta sejumlah 2,665 judul, 4,452 eks dan Audio Visual 743 judul 1,252 cop serta Foto/Lukisan 251buah dalam berbagai subjek dan media kini semakin membuka diri mengikuti perkembangan zaman dalam mempromosikan akses terhadap koleksi tersebut. Sebagian koleksi bisa diakses secara on-line dan sebagian lagi dapat diakses secara on-site.

 

Sementara itu, sebagian masyarakat kita sekarang memiliki  perhatian yang serius terhadap pendidikan karakter bangsa yang pada saat ini dirasa sangat kurang ditemukan (Tokoh-tokoh yang menjadi panutan bagi mereka) Mereka membuat kegiatan-kegiatan yang mereflaksikan tokoh-tokoh bangsa Indonesia di masa pra kemerdekaan agar tetap terjaga dan terpeliharanya rasa nasionalisme masyarakat pada saat ini. 

Selain sebagai tantangan, keterbukaan di era Masyarakat Global adalah juga peluang besar bagi Indonesia untuk lebih memperkenalkan keragaman dan kebhinekaan kebudayaan dan pemikiran, terutama melalui pandangan/pemikiran tokoh-tokoh pendiri bangsa ini.

 

Untuk merespon semua perkembangan itulah, UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta bermaksud melaksanakan perannya sebagai penyedia dan pemberi informasi (khususnya tentang ke-Bung Hatta-an) dengan memanfaatkan teknologi informasi kekinian.  

 

INTERNALISASI

Internalisasi nilai dalam proses pembelajaran, pun dalam soal pendidikan agama dan ilmu-ilmu sosial lainnya, impelementasinya setidaknya membutuhkan motivasi dari seluruh elemen pendidikan. Tidak hanya guru, atau dosen, tetapi, juga pemimpin lembaga pendidikan dimaksud.

 

Secara teoretik, implementasi motivasi untuk melakukan internalisasi nilai itu, setidaknya membutuhkan tiga pendekatan, yaitu; 1) isi (content), 2) proses, 3) dan pengetahuan. Teori dengan pendekatan isi lebih banyak menekankan pada faktor apa yang membuat individu melakukan suatu tindakan dengan cara tertentu atau nilai tertentu. Tergolong kedalam kelompok teori ini masuk misalnya teori jenjang kebutuhan dari Maslow, yang sepintas terkesan secular karena menjauhkan dimensi keberagaman.

 

Membicarakan para bapak pendiri bangsa, tidak lengkap rasanya tanpa menyebut sosok Bung Hatta. Kiprahnya dalam perjuangan di balik layar, atau melalui jalan diplomasi sudah tak diragukan lagi. Bersama Bung Karno, Bung Hatta seolah menjadi tandem yang tak terpisahkan dan dikenang hingga kini. Nama keduanya disematkan menjadi nama jalan, bandara bahkan lembaga perpustakaan yaitu Perpustakaan Proklmator Bung Karno (di Blitar) dan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta (di Bukittinggi). Terlahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Mohammad Hatta merupakan anak dari seorang ibu keluarga terkaya disana. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil meninggal ketika Bung Hatta masih berusia delapan bulan. Dia adalah anak laki-laki satu-satunya, enam saudaranya adalah perempuan. Nama besar Bung Hatta tidaklah membuat dirinya bangga akan gelar dan hingar bingar jasa yang telah ditorehkannya.

 

Bung Hatta hidup dalam kebersahajaan dan kesederhanaan walaupun beliau adalah tokoh besar bangsa ini. Walaupun sederhana, sosoknya sangatlah berwibawa. Berikut beberapa sifat/karakter Bung Hatta yang sekarang jarang kita temukan pada tokoh-tokoh bangsa/pejabat  saat ini.

  1. Bung Hatta adalah sosok suami yang menyayangi keluarga.

  2. Kecintaannya terhadap buku, membuat koleksinya berjumlah ribuan. Gajinya sebagai wakil presiden kala itu, selalu habis untuk membeli buku.

  3. Beliau pernah mengembalikan dana taktis sebesar Rp. 25.000 yang sebenarnya adalah haknya.

  4. Bung Hatta tak pernah gila akan ambisi.

  5. Beliau pernah menolak semua tawaran untuk menjabat komisaris perusahaan nasional dan internasional. Tawaran dari World Bank pun ditolaknya.

  6. Walaupun sebagai wakil presiden, beliu bukanlah orang kaya.

  7. Bung Hatta pernah menyimpan guntingan iklan sepatu Bally di dompetnya. Berharap kelak bisa membelinya, namun sampai akhir hayatnya keinginan tersebut tak pernah tercapai.

  8. Pernah berjanji, tak akan menikah selama Indonesia belum merdeka. Janji itupun ia tepati, setelah tiga bulan Indonesia merdeka dia menikahi Rahmi pada 18 November 1945.

  9. Beda dari yang lain, mas kawin yang diberikan Bung Hatta bukanlah emas, barang mewah, atau paket liburan layaknya para elit masa kini. Buku karyanya yang berjudul ‘Alam Pikiran Yunani’, adalah mas kawin darinya untuk sang istri.

  10. Soal buku, beliau tak suka cara membaca dengan melipat sampul depan hingga bertemu sampul belakang.

  11. Gelar Doktor Honoris Causa diperoleh Bung Hatta dari UGM pada 27 November 1956. Sementara UI menganugerahi gelar yang sama pada bidang hukum tahun 1975. Kemudian, Universitas Padjadjaran memberinya jabatan guru besar luar biasa di bidang politik kepadanya.

  12. Beliau adalah seorang nasionalis sejati. Bung Hatta menolak untuk menginjakkan kakinya di Singapura karena negeri  itu telah menjatuhkan hukuman gantung kepada dua marinir Indonesia, Usman dan Harun. Bung Hatta menganggap hukuman itu adalah bentuk penghinaan.

Kepergiannya menghadap Illahi pada 14 Maret 1980 membawa duka yang mendalam bagi bangsa. Jasa dan ketauladaannya diharapkan akan menginspirasi banyak orang saat ini dan kedepannya. Terutama tentang semangat kebersahajaan, membaca dan cinta tanah air.

 

Disinilah betapa penting dan perlunya peran Perpustakaan Nasional RI (melalui UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta) sebagai lembaga penyedia literasi dan informasi tentang Bung Hatta untuk menginternalisasikan pemikiran dan karakter tokoh ini kepada msyarakat luas. Ada tiga masalah pokok bangsa Indonesia saat ini, yaitu merosotnya kewibawaan negara, melemahnya sendi-sendi nasional, serta krisis kepribadian bangsa. Ketiga masalah tersebut berimplikasi kepada kemiskinan, kesenjangan sosial, ketergantungan pangan, dan lainnya.

JAM LAYANAN

PERPUSTAKAAN

Senin - Kamis

pukul 08.00 - 16.00 wib

istirahat pukul 12.00 - 13.00 wib

Jum'at

pukul 09.00 - 16.30 wib​

istirahat pukul 12.00 - 13.30 wib​

Sabtu - Minggu

pukul 09.00 - 15.00 wib​

istirahat pukul 12.00 - 13.00 wib

3.0 150 Product ratings

UPT PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG HATTA

Jl. Kusuma Bhakti Gulai Bancah Bukittinggi, Sumatera Barat - 26122

Tel: (62-752) 34270, 34240, 34230
Fax: (62-752) 34270

© 2018 by. UPT PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG HATTA                                                                                                 ezr